Please download to get full document.

View again

of 84
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

STUDI KERAGAMAN JAMBU BOL ( Syzygium malaccense L.) DI DAERAH KECAMATAN WEDARIJAKSA, PATI, JAWA TENGAH GUNA PERBAIKAN SIFAT TANAMAN

Category:

Letters

Publish on:

Views: 303 | Pages: 84

Extension: PDF | Download: 4

Share
Related documents
Description
digilib.uns.ac.id STUDI KERAGAMAN JAMBU BOL ( Syzygium malaccense L.) DI DAERAH KECAMATAN WEDARIJAKSA, PATI, JAWA TENGAH GUNA PERBAIKAN SIFAT TANAMAN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh
Transcript
digilib.uns.ac.id STUDI KERAGAMAN JAMBU BOL ( Syzygium malaccense L.) DI DAERAH KECAMATAN WEDARIJAKSA, PATI, JAWA TENGAH GUNA PERBAIKAN SIFAT TANAMAN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian Di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jurusan/Program Studi Agronomi Oleh : Windy Klara Panaringsih H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012 digilib.uns.ac.id STUDI KERAGAMAN JAMBU BOL ( Syzygium malaccense L.) DI DAERAH KECAMATAN WEDARIJAKSA, PATI, JAWA TENGAH GUNA PERBAIKAN SIFAT TANAMAN. yang dipersiapkan dan disusun oleh Windy Klara Panaringsih H telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal : Juni 2012 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Tim Penguji Ketua Anggota I Anggota II Dr. Ir. Parjanto, MP NIP Dr. Ir. Djati Waluyo Djoar, MS NIP Ir. Trijono Djoko Sulistyo, MP Surakarta, Juli 2012 Mengetahui Universitas Sebelas Maret Surakarta Fakultas Pertanian Dekan Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS NIP digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Segala puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan karunia, nikmat dan kasih saying-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Studi Keragaman Jambu bol (Syzygium malaccense L.) Di Daerah Kecamatan Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah Guna Perbaikan Sifat Tanaman. Skripsi ini disusun dan diajukkan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Dalam penulisan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan berbagai pihak, sehingga penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian UNS 2. Dr. Ir. Pardono, MS selaku Ketua Jurusan Agronomi FP UNS 3. Prof. Dr. Ir. Nandariyah, MS selaku Pembimbing Akademik 4. Dr. Ir. Parjanto, MP selaku Pembimbing Utama 5. Dr. Ir. Djati Waluyo Djoar, MS selaku Pembimbing 6. Ir. Trijono Djoko Sulistyo, MP selaku Pembahas 7. Kedua orang tua tercinta yang telah memberikan dukungan moral dan material, serta saudara/iku atas semua dukungannya. 8. Dia tercinta yang selalu menemani dan memberi dukungan penulis 9. Seluruh teman-teman Agronomi 07 dan avitoo atas dukunganya, dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Walaupun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri khususnya dan para pembaca pada umumnya. Surakarta, Juni 2012 Penulis digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix RINGKASAN... x SUMMARY... xi I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah... 2 C. Tujuan Penelitian... 3 D. Hipotesis... 3 II. TINJAUAN PUSTAKA... 4 A. Tanaman Jambu bol Sistematika Tanaman Nama Daerah Asal tanaman Syarat Tumbuh Sentra penanaman Kandungan Keunggulan Kelemahan Potensi ekonomis... 7 B. Morfologi Jambu bol... 8 C. Karakterisasi Morfologi 9 D. Plasma Nutfah dan Pemuliaan Jambu bol III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian commit... to user 13 digilib.uns.ac.id B. Bahan dan Alat C. Tata Laksana penelitian D. Analisis Data IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Morfologi Kanopi Habitus Tanaman Tinggi Tanaman B. Morfologi Daun Bangun Daun Tepi Daun Ujung Daun Pangkal Daun Tangkai Daun Warna Tangkai daun Warna Permukaan Atas Daun Warna Permukaan Bawah Daun Panjang Daun Lebar Daun Luas Daun Analisis dendogram morfologi daun..39 C. Morfologi Batang Bentuk Batang Jumlah Cabang Lingkar Batang Warna Batang Analisis dendogram morfologi batang D. Morfologi Bunga Letak Bunga Jumlah Kelopak Bunga Tipe bunga Warna bunga... 52 digilib.uns.ac.id E. Morfologi Buah Bentuk Buah Berat Buah Lingkar Buah Tebal Daging Buah Warna Buah Nilai PTT Analisis Dendogram Morfologi Buah F. Morfologi Biji Bentuk Biji Jumlah Biji Berat Biji Lingkar Biji Analisis Dendogram Morfologi Biji G. Prediksi Jumlah Buah per Buah H. Pengelompokkan Aksesi Jambu bol V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 81 digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Habitus tanaman Jambu bol Tinggi tanaman Jambu bol Bangun daun Jambu bol Tepi daun Jambu bol Ujung daun Jambu bol Pangkal daun Jambu bol Tangkai daun Jambu bol Warna tangkai daun Jambu bol Warna permukaan atas daun Jambu bol Warna permukaan bawah Jambu bol Rata-rata Panjang daun Jambu bol Rata-rata Lebar daun Jambu bol Rata-rata Luas daun Jambu bol Bentuk batang Jambu bol Jumlah cabang Jambu bol Lingkar batang Jambu bol Warna batang Jambu bol Letak bunga Jambu bol Jumlah kelopak bunga Jambu bol Tipe bunga Jambu bol Warna bunga Jambu bol Bentuk buah Jambu bol Rata-rata berat buah Jambu bol Rata-rata lingkar buah Jambu bol Rata-rata tebal daging buah Jambu bol Warna buah Jambu bol Rata-rata PTT Jambu bol Bentuk biji Jambu bol... 64 digilib.uns.ac.id 29. Jumlah biji per buah Berat biji per buah Rata-rata lingkar biji Jambu bol Prediksi jumlah buah per pohon... 70 digilib.uns.ac.id DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Dendogram berdasarkan morfologi daun Jambu bol Dendogram berdasarkan morfologi batang Jambu bol Dendogram berdasarkan morfologi buah Jambu bol Dendogram berdasarkan morfologi biji Jambu bol Dendogram berdasarkan kemiripan morfologi kanopi, daun, batang, buah, dan biji Jambu bol... 72 digilib.uns.ac.id I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis sehingga memiliki keragaman sumber daya tanaman buah-buahan yang cukup banyak untuk digali dan didayagunakan potensi sosial ekonominya sebagai komoditas komersial. Reni Lestari dan Rismita Sari (2005) mendapati 168 jenis buah yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut di Indonesia. Keunggulan buah-buahan terletak pada penyedia vitamin C dan asam askorbat. Sumber daya manusia dan dana menjadi kendala utama dalam upaya observasi, eksplorasi, dan eksploitasi potensi sumberdaya alam khususnya aneka buah khas Nusantara. Salah satu buah yang perlu digali potensi sosial ekonominya adalah jambu bol (Syzygium malaccense L.). Buah yang termasuk dalam family Myrtaceae, ini memiliki nama dalam bahasa Inggris, Malay apple. Buah jambu bol yang juga dinamakan buah jambu dersana merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari kawasan Indo-Cina, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia, buah yang tampak ranum berwarna merah ini lebih banyak ditemukan di Pulau Jawa. Jambu bol memiliki daya adaptasi yang luas di lingkungan tropis, dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang mencapai 1200 m dpl. Jambu bol berbunga pada bulan Mei-Juni dan buah sudah bisa dipanen pada bulan Agustus-September. Kadang-kadang terjadi gejala pohon tumbuh subur dan tampak segar tetapi tidak mau berbunga atau berbuah. Dahulu jambu bol di Jawa pernah diusahakan besar-besaran sebagai penghasil buah, tetapi sekarang hanya merupakan tanaman pekarangan. Hal ini disebabkan tidak adanya peremajaan sehingga banyak pohon tua yang mati dan tidak produktif. Perbanyakan tanaman jambu bol yang umum yaitu dengan bijinya. Jambu bol dapat pula diperbanyak commit dengan to user cangkok (Setijati et al, 1977). Pada 1 digilib.uns.ac.id 2 buah jambu bol terdapat kandungan serat, kalsium, fosfor, vitamin A, tiamin, riboflavin, asam askorbat, dan niacin. Pada biji, kulit kayu, dan daunnya memiliki sifat antibiotika dan memiliki efek terhadap tekanan darah dan pernapasan (Detikhealth, 2010). Manfaat buah jambu bol pada umumnya dimakan dalam keadaan segar tanpa diolah karena rasa buahnya yang masam dan memiliki tekstur daging yang lembut. Batang pohon jambu bol dapat digunakan sebagai obat sariawan dengan hanya merebus batangnya dan meminum airnya. Selain itu, bubuk daun kering jambu bol bisa digunakan untuk mengatasi luka di lidah. Akarnya digunakan untuk mengobati gatal-gatal. Jambu bol juga bersifat diuretik dan dapat mengatasi bengkak, meredakan disentri, peluruh haid dan bersifat abortif atau penggugur (Supriyadi, 2011). Sentra penghasil jambu bol di Jawa Tengah adalah kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati. Di daerah tersebut, khususnya Desa Sukoharjo dan Jontro malang, telah dibudidayakan tanaman jambu bol sehingga terbentuk populasi jambu bol di wedarijaksa Pati. Sejauh pustaka yang ada, belum dilakukan kajian potensi genetik maupun perbaikan sifat terhadap tanaman jambu bol tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi karakterisasi dan keragaman sifat sebagai langkah awal usaha perbaikan sifat jambu bol asal Pati melalui usaha pemuliaan. B. Perumusan Masalah 1. Bagaimanakah sifat-sifat morfologi tanaman jambu bol di daerah Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah? 2. Apakah terdapat keragaman sifat (terutama sifat-sifat agronomi) pada pertanaman jambu bol di daerah Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah? digilib.uns.ac.id 3 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. Mengidentifikasi dan mengkarakterisasi sifat morfologi beberapa aksesi tanaman jambu bol di daerah kecamatan Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah. 2. Mengetahui keragaman tanaman jambu bol di daerah Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah berdasarkan sifat morfologi. 3. Mengidentifikasi aksesi tanaman yang mempunyai sifat unggul, terutama nilai padatan total terlarut (PTT) buah tinggi (berasa manis). D. Hipotesis Diduga terdapat keragaman tanaman jambu bol (Syzygium malaccense L.) yang terdapat di daerah Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah berdasarkan sifat morfologi. digilib.uns.ac.id 4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman jambu bol ( Syzygium malaccense L.) 1. Sistematika tanaman Klasifikasi jambu bol adalah sebagai berikut (Masrul, 2009): Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Famili : Myrtaceae Genus : Syzygium Spesies : Syzygium malaccense (L.) Merr & Perry 2. Nama daerah Nama-nama daerahnya di antaranya jambu bol, jambu jambak (Min.), jambu bool (Sd.), nyambu bol (Bl.), jambu bolo (Mak.), jambu bolu (Bug.). Juga, jambu darsana, dersana, tersana (Jw.,Md.); kupa maaimu (Sulut); nutune, lutune, lutu kau, rutuulmal.) dan lain-lain (Wikipedia, 2010). 3. Asal tanaman jambu bol Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Malay apple, sementara nama ilmiahnya adalah Syzygium malaccense (yang berarti: berasal dari Malaka ) menunjuk pada salah satu wilayah asal-usulnya. Asal usul pohon buah ini tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi jambu bol ditanam luas sejak lama di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa. Karena manfaatnya, jambu bol kini ditanam di banyak negara tropis, termasuk di negara-negara Karibia seperti Jamaika serta Trinidad dan Tobago (wikipedia, 2010). Jambu bol (Syzygium malaccense) termasuk famili Myrtaceae yang berasal dari Asia Tenggara yang keberadaannya terbatas di Jawa, Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Beberapa bagian dari tanaman kelompok digilib.uns.ac.id 5 Syzygium ini digunakan dalam obat-obatan tradisional karena memiliki aktivitas antiobitik. Khususnya kulit batang, daun dan akar jambu bol sering digunakan untuk menyembuhkan penyakit (Baswarsiati, 2009). Baswarsiati (2009) mengungkapkan Saat ini tanaman jambu bol yang ada masih ditanam dan dikembangkan di pekarangan. Jumlah tanaman yang ada di desa Gondang Manis, kecamatan Bandar kedungmulyo kabupaten Jombang sekitar 600 pohon dengan kisaran umur 10 hingga 30 tahun. Nampaknya di Jawa Timur pertanaman jambu bol yang ada dalam satu kawasan atau dalam satu desa dan telah diusahakan hingga peluang pasar sampai pasar swalayan hanya jambu bol Gondang Manis. 4. Syarat tumbuh jambu bol Tanaman jambu bol dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki curah hujan mm/tahun. Dalam Pertumbuhannya tanaman jambu bol memerlukan intensitas cahaya matahari sebesar 40-80%. Temperatur yang ideal untuk pertumbuhan tanaman jambu bol adalah 18 0 C. Kelembaban udara antara 50 % (Rukmana, 1998). Menurut Rukmana (1998) tanaman jambu bol mempunyai daya adaptasi yang besar di lingkungan tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai m dpl. Tanah yang cocok adalah tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik. Tanah inseptisol sangat baik, sedangkan tanah yang tidak terlalu subur seperti Ultisol dan Oksisol (Podsolik Merah Kuning) masih baik untuk budidaya jambu bol setelah diberi pupuk dan kapur. Tanah dengan keasaman (ph) antara 5,5-7,5 sangat cocok untuk pertumbuhan. Tanaman tahunan ini dapat hidup sampai puluhan tahun. Dua jenis jambu bol lokal yang biasa ditanam adalah jambu bol merah Cianjur dengan potensi kg/musim/pohon dan jambu bol putih Congkili dengan potensi kg/musim/pohon. Varietas baru berumur genjah adalah Si Mojang yang dapat dipanen 3 kali dalam setahun (Sanusi, 1998). digilib.uns.ac.id 6 Menurut Baswarsiati (2009) pada umumnya tanaman jambu bol tumbuh dan berproduksi pada dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dari permukaan laut dengan lingkungan yang baik dan ternaungi dan cenderung tumbuh di daerah tropis basah. Jambu bol Gondang Manis tumbuh baik, pada ketinggian tempat 50 m dpl dan kondisi agak lembab. Oleh karena rata-rata tanaman telah berumur lebih dari 20 tahun maka kondisi kebun atau pekarangan menjadi lebih lembab. 5. Sentra penanaman Jawa Barat (Lebak, Bogor, Cianjur, Garut, Ciamis, Sumedang, Subang), Jawa Tengah (Purworejo, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Jepara), Jawa Timur (Malang, Banyuwangi, Pamekasan) dan DI Yogyakarta (Kulon Progo). Pada tahun 1991, produksi di pulau Jawa mencapai kwintal/tahun. Luas produksi sukar dipastikan karena belum ada perkebunan jambu bol, umumnya ditanam sebagai tanaman pekarangan saja. Diperkirakan jumlah pohon jambu bol di Pulau Jawa mencapai Produksi jambu bol dari tahun ke tahun dapat dikatakan konstan (BAPPENAS, 2000). 6. Kandungan jambu bol Jambu bol mengandung senyawa terpenoid, alkaloid dan flavonoid. Sebagai Antidiabetes ekstrak etanol daun jambu bol diperoleh bahwa pada dosis 100, 200 dan 400 mg dapat menurunkan kadar glukosa darah (Helmi et al, 2009). 7. Keunggulan jambu bol Jambu bol memiliki beberapa keunggulan terutama dari penampilan buah menarik dengan warna ungu kemerahan dan rasa buah segar dengan aroma harum dan daging buah putih bersih serta kemampuannya tumbuh dan berkembang di dataran rendah iklim kering. Jambu bol memiliki ukuran buah digilib.uns.ac.id 7 yang lebih kecil dibanding jambu bol Harman sehingga lebih menarik untuk dimakan (tidak terlalu besar). Warna buah menarik yaitu ungu tua serta rasa buah manis, segar dengan tekstur halus dan kenyal serta kadar vitamin C cukup tinggi. Selain itu perbedaan bentuk buah tampak pada pangkalnya (Baswarsiati, 2009). 8. Kelemahan jambu bol Kelemahan pertanaman jambu bol secara umum hingga saat ini yaitu pada kualitas buah yang cepat menurun 2-3 hari setelah panen. Buah akan nampak kisut setelah 3 hari disimpan pada suhu kamar. Namun bila disimpan pada suhu dingin (sekitar 15 0 C) maka kesegaran bisa bertahan 7 hari. Hal ini karena secara genetis kulit jambu bol sangat tipis sehingga mudah lecet jika terkena benturan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengemasan dengan bungkus jaring pada masing-masing buah sehingga buah tidak mudah lecet dan busuk dan disimpan pada suhu dingin. Air di dalam buah jambu bol mudah menguap bila terkena sinar matahari sehingga buah yang telah dipetik tidak boleh terkena sinar matahri langsung karena buah menjadi layu dan kisut (tidak segar). 9. Potensi ekonomis Penilaian keunggulan jambu bol Gondangmanis dapat dilihat dari potensi ekonomis. Pemilik tanaman jambu bol di desa Gondangmanis kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang selalu mengatakan bahwa tanaman jambu bol yang dimiliki sangat membantu di dalam menunjang kebutuhan hidup mereka. Hal ini karena harga jambu bol di tingkat petani berkisar antara Rp 7.000,- hingga Rp 8.000,-. Pohon jambu bol yang baru pertama kali berbuah asal dari biji (umur 4-5 tahun) dapat menghasilkan buah sebanyak kg, pada umur tahun menghasilkan kg/pohon (Baswarsiati, 2009) digilib.uns.ac.id 8 B. Morfologi jambu bol Penggambaran umum morfologi jambu bol adalah sebagai berikut: pohonnya mempunyai tinggi hingga sekitar 15 m. Batang lurus, gemangnya hingga cm, bercabang rendah dan bertajuk rimbun padat sampai membulat, memberikan naungan yang berat. Daun tunggal terletak berhadapan, dengan tangkai pendek 1-1,5 cm, yang tebal dan kemerahan ketika muda. Helaian daun lonjong menjorong, x 7-20 cm, tebal agak kaku seperti jangat. Karangan bunga muncul pada bagian ranting yang tak berdaun (sering pula pada cabang dekat batang utama), bertangkai pendek dan menggerombol, berisi 1-12 kuntum. Bunga merah agak ungu atau jambon, berbilangan 4, bergaris tengah 5-7 cm, tabung kelopak panjang 1,5-2 cm, helai mahkota merah, lonjong, bundar telur atau bundar, 1,5-2 cm, benang sari banyak, panjang s/d 3,5 cm, panjang tangkai putik 3-4,5 cm. Buah buni berbentuk bulat sampai menjorong, dengan garis tengah 5-8 cm, merah tua, kuning keunguan, atau keputihan. Daging buah padat, tebal 0,5-2,5 cm, putih dengan banyak sari buah dan wangi yang khas, asam manis sampai manis. Bijinya sebutir, bulat kecoklatan, berdiamater 2,5-3,5 cm (Soeharso, 2011). Menurut Sanusi (1998), buah jambu bol dalam setahun bisa panen sampai empat kali. Sedangkan pemeliharaannya, sangat enteng dan murah. Sedangkan, usia pembuahan perdananya sangat cepat, hanya membutuhkan waktu 2,5-3 tahun. Setelah umur itu, si mojang pasti berbuah lebat. Ciri-ciri jenis jambu ini di antaranya, memiliki tajuk pohon berbentuk seperti prisma atau kerucut. Ketinggian pohon mencapai 8 meter lebih. Bentuk daun panjang, sedikit lonjong. Memiliki warna hijau tua. Sedangkan pucuknya, berwarna merah kecoklatan. digilib.uns.ac.id 9 C. Karakterisasi Morfologi Menurut Tjitrosoepomo (2005), morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tubuh tumbuhan saja, tetapi juga bertugas untuk menentukan apakah fungsi masing-masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan, dan selanjutnya juga berusaha mengetahui dari mana asal bentuk dan susunan tubuh yang demikian tadi. Selain dari itu morfologi harus pula dapat memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa bagian-bagian tubuh tumbuhan mempunyai bentuk dan susunan yang beraneka ragam. Untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar varietas yang ada perlu dilakukan identifikasi. Identifikasi ini akan mampu menelaah mengenai kenampakan dan struktur tumbuhan, termasuk bagaimana bentuk suatu tumbuhan, susunan eksternal dan internalnya. Identifikasi berdasarkan karakter morfologi, mengamati bentuk dan perkembangan tumbuhan. Penampilan eksternal tumbuhan dan juga berbagai bentuk modifikasinya (Tjitrosomo, 1984). Berdasarkan perkembangannya, ada 3 sistem identifikasi yaitu, sistem alam dan sistem filogenik (Ashari, 1991). Identifikasi suatu jenis tanaman sering menggunakan karakter morfologi karena merupakan cara yang termudah dalam mengenal tanaman. Lebih lanjut lagi Tjitrosoepomo (1985) mengungkapkan cara menyusun diskripsi lengkap suatu tanaman yaitu dengan mengamati perawakan tumbuhan (habitus), perihal perakaran, perihal batang, perihal daun, perihal buah, perihal biji serta alat- alat modifikasi. Identifikasi berdasarkan karakter morfologi memiliki keterbatasan, diantaranya adalah yaitu faktor lingkungan, jumlah karakter yang diamati terbatas dan adanya sifat dominan dan resesif pada tanaman. Meskipun demikian, identifikasi terhadap karakter morfologi tetap digunakan dalam program pemuliaan tanaman tanaman, karena pengamatannya sangat mudah dan cepat (Rusdiansyah, 2001). digilib.uns.ac.id 10 Persamaan dan perbedaan kemunculan morfologi luar spesies tanaman dapat digunakan untuk mengetahui jauh dekatnya hubungan kekerabatan. Ciriciri morfologi luar yang dikontrol secara genetis akan diwariskan ke generasi berikutnya. Faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap ekspresi ciri tersebut, meskipun hanya bersifat temporer. Keragaman dapat diamati pada individu dalam satu kelompok populasi, antar kelompok populasi dalam satu spesies dan antar spesies (sofro, 1994). Menurut Singh (1999) klasifikasi keragaman dapat dilakukan dengan menggunakan dua macam sistem klasifikasi yaitu klasifikasi fenetik berdasarkan karakter morfologi (
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks