Please download to get full document.

View again

of 53
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.

PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH

Category:

Engineering

Publish on:

Views: 85 | Pages: 53

Extension: PDF | Download: 2

Share
Related documents
Description
PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF (Staphylococcus aureus) DAN GRAM NEGATIF (Escherichia coli) SECARA IN VITRO Oleh HARI HARDANA UTAMA SALIM
Transcript
PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF (Staphylococcus aureus) DAN GRAM NEGATIF (Escherichia coli) SECARA IN VITRO Oleh HARI HARDANA UTAMA SALIM PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2016 ABSTRACT ANTIMICROBIAL ACTIVITY OF GARLIC EXTRACT (Allium Sativum) ON GRAM POSITIVE BACTERIA (Staphylococcus aureus) AND GRAM NEGATIVE BACTERIA (Escherichia coli) IN VITRO By Hari Hardana Utama Salim Bacterial-infection diseases are one of the oldest illnes that still being primary health problem and antibiotic as definitive drug has become less effective due to antibiotic resistance. This phenomenone forces researcher to find alternative for herbal plant like garlic. The purpose of this research was to study the effect of garlic extract on grampositive and gram-negative bacteria. This was laboratoric analitics experiment with static group comparison design and conducted on January 2015 in Microbiology Laboratory, Medical faculty of Lampung University. The sample of this study is Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Garlic extraction was done mechanically with aquades as the solvent. This study used kirby-bauer disk diffusion as the method. The result showed average diameter of inhibition zone of S. aureus and E. coli were 23.78mm and 22.30mm respectively. Mann-whitney test result showed that there was no difference antimicrobial effect of garlic extract between gram-positive and gram-negative bacteria (p = 0.56). It could be concluded that the extract has antimicrobial activity on gram-positive and gramnegative bacteria but without statistically different susceptibility between those bacterias. Keywords: antibiotic, Eschericia coli, Staphylococcus aureus, resistance ABSTRAK PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF (Staphylococcus aureus) DAN GRAM NEGATIF (Escherichia coli) SECARA IN VITRO Oleh Hari Hardana Utama Salim Penyakit infeksi akibat bakteri adalah salah satu penyakit yang paling tua yang masih menjadi masalah kesehatan utama dan antibiotik sebagai obat definitif telah menjadi kurang efektif karena adanya resistensi bakteri. Fenomena resistensi ini memaksa peneliti di dunia untuk menemukan antibiotik alternatif dari tanaman herbal seperti bawang putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti efek ekstrak bawang putih terhadap bakteri gram positif dan negatif. Penelitian eksperimen ini bersifat analitik laboratorik dengan menggunakan rancangan atau desain penelitian eksperimen perbandingan kelompok statis yang dilaksanakan pada bulan Januari 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas kedokteran Universitas Lampung. Sampel pada penelitian ini adalah bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi bawang putih dilakukan secara mekanik dengan aquades sebagai pelarutnya. Penelitian ini menggunakan metode cakram kirby-bauer. Hasil penelitian didapatkan rerata diameter zona hambat S. aureus 23.78mm dan E. coli 22.30mm. Berdasarkan hasil analisis mann-whitney didapatkan tidak ada perbedaan aktivitas antimikroba bawang putih antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (p = 0.56) Maka kesimpulannya ekstrak bawang putih memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri gram positif dan gram negatif tetapi dengan kepekaan yang secara statistik tidak berbeda antara kedua bakteri tersebut. Kata kunci: antibiotik, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, resistensi PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF (Staphylococcus aureus) DAN GRAM NEGATIF (Escherichia coli) SECARA IN VITRO Oleh : Hari Hardana Utama Salim Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN Pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampunga FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2016 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Surabaya, 17 Maret 1993, sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari Bapak Hadi Salim, S.H., M.H. dan Ibu Dyah Esti Budiastuti, S.E. Penulis memiliki seorang adik perempuan, yaitu Irma Dian Sari, S.H. Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Aisyah dan diselesaikan pada tahun 1999, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN Pucang 2 Sidoarjo pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMPN 1 Sidoarjo pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 1 Sidoarjo pada tahun Tahun 2012, penulis masuk ke Universitas Lampung dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif pada organisasi PMPATD Pakis Rescue Team Fakultas Kedokteran Unila SANWACANA Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-nya skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Skripsi dengan judul PENGARUH AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK BAWANG PUTIH ( Allium sativum) TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF (Staphylococcus aureus) DAN GRAM NEGATIF (Escherichia coli) SECARA IN VITRO adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung; 2. Dr. dr. Muhartono, S.Ked, M.Kes, Sp.PA, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung; 3. dr. Tri Umiana Soleha, M.Kes, selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran yang cerdas, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini. Beliau adalah orang yang paling berjasa terwujudnya penelitian pada skripsi ini; 4. dr. M. Ricky Ramadhian, M.Sc, selaku Pembimbing Kedua atas kesediannya untuk memberikan bimbingan, saran yang cerdas, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini. Beliau adalah orang yang paling berjasa terwujudnya penelitian pada skripsi ini; 5. Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, M.Kes., Sp.MK, selaku Penguji Utama pada ujian skripsi atas masukan, ilmu, dan saran-saran yang telah diberikan. 6. dr. Oktadoni Saputra, M.Med.Ed, selaku Pembimbing Akademik saya, terima kasih atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan selama ini; 7. Bapak Hadi Salim, S.H., M.H dan Ibu Dyah Esti Budiastuti, S.E yang tidak pernah berhenti menyebut nama saya dalam doanya, membimbing, menasehati, memberi semangat, dan memberikan segala yang terbaik untuk saya; 8. Ria Rizki Jayanti yang telah selalu setia membantu, mendukung dan menemani saya. 9. Rio Gasa, Kautsar Ramadhan, Andrian Rivanda, Yudha Prasetyo, Galih Prasetio, Amri Yusuf, Asoly Giovano, M. Syahrezki, Leon Lisman, Rana Raydian, Talytha Alethea, Gemayang, I Ratna, Sefira Ramadhani, Septyne Rahayuni; terima kasih untuk kebersamaan sejak masa propti hingga saat ini. 10. M. Khamim yang telah menjadi guru terbaik dalam setiap jenjang studi saya. 11. PMPATD PAKIS RESCUE TEAM atas ilmu dan kekompakannya selama ini dan lamtoro (Hambali Humam dan Eduard) atas pengalaman tentang alam. 12. Larry Page dan Sergey Brin yang telah mendirikan Google sehingga mempermudah dalam penyusunan skripsi ini. 13. Teman-teman angkatan 2012 yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaan yang terjalin dan memberi motivasi belajar. 14. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita. 15. Semua yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas doa dan dukungannya. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Bandar Lampung, Maret 2016 Penulis Hari Hardana Utama Salim DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... i vi vii BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bakteri Gram Positif Staphylococcus aureus Bakteri Gram Negatif Escherichia coli Bawang Putih Antimikroba Kerangka Teori Kerangka Konsep i 2.7 Hipotesis BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Mikroba Uji dan Bahan Uji Penelitian Identifikasi Variabel Definisi Operasional Besar Sampel Prosedur Penelitian Pengolahan dan Analisis Data BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil Analisis Data Pembahasan BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Definisi Operasional Hasil isolasi dan pewarnaan gram ulang bakteri uji Hasil uji biokimawi ulang bakteri uji Zona hambat S. aureus Zona hambat Escherichia coli Rerata diameter zona hambat Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (dalam mm) Hasi Analisis Univariat Uji non-parametrik kelompok konsentrasi bakteri Hasil uji statistik antara kelompok konsentrasi dengan kontrol positif iv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Staphylococcus aureus Escherichia coli Bawang Putih Kerangka teori Kerangka Konsep Alur Kerja Penelitian... 31 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang paling tua yang masih menjadi masalah kesehatan utama, meskipun penyakit lain seperti penyakit degeneratif dan metabolik cenderung mengalami peningkatan. Penyakit infeksi saluran pernafasan dan diare yang disebabkan bakteri masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang maupun negara maju. Bakteri gram postif ( Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif ( Escherichia coli) merupakan bakteri yang sering menyebabkan penyakit infeksi (Zein, 2004). Penyakit infeksi bakteri umumnya dapat diobati dengan antibiotik. Antibiotik dan obat-obatan sejenis, yang dikemudian disebut sebagai obat antimikroba, telah digunakan selama lebih dari 70 tahun untuk mengobati pasien dengan penyakit infeksi. Sejak tahun 1940-an, obat-obatan ini telah mengurangi gejala dan kematian yang diakibatkan penyakit infeksi. Tetapi, karena telah digunakan secara luas dan berlebihan, mikroorganisme yang seharusnya dapat dibasmi oleh 2 antimikroba, telah beradaptasi dan membuat antimikroba menjadi kurang efektif (CDC, 2014a). Mekanisme resistensi yang menjadi bagian dari evolusi mikroorganisme, mengancam kemampuan seorang dokter dalam mengobati penyakit infeksius umum, yang mengakibatkan kematian atau kecacatan yang seharusnya dapat sembuh dan menjalankan hidup yang normal. Tanpa pengobatan anti-infektif yang efektif, banyak prosedur medis standar akan gagal atau menjadi sangat beresiko. Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme resisten dapat mempersulit penyembuhan, peningkatan biaya pengobatan dan resiko kematian yang meningkat (WHO, 2014). Fenomena resistensi ini memaksa peneliti di dunia untuk menemukan antibiotik alternatif dari tanaman herbal. Bawang putih ( Allium sativum) telah digunakan dari jaman dahulu hingga jaman modern (Harris et al., 2001). Pada tahun 1858, Louis Pasteur yang pertama kali mendeskripsikan tentang aktivitas antimikroba dari bawang putih dan bawang merah. Bawang putih menunjukkan sifat antibiotik yang luas terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif, termasuk terhadap strain yang multi-resisten antibiotik (Fujisawa et al., 2009), aktivitas antifungi terutama pada strain Candida sp, aktivitas antiviral dan antiparasit, termasuk protozoa usus seperti Giardia lambria dan Entamoeba hystolitica (Kedzia, 2010). 3 Bawang putih memiliki potensi sebagai pengganti antibiotik. Karena selain mudah untuk diaplikasikan sebagai obat, bawang putih telah menjadi salah satu tanaman tertua yang dibudidayakan manusia sehingga bawang putih dapat ditemukan di seluruh dunia. Manfaat bawang putih sangat banyak. Bawang putih dipercaya memiliki manfaat antispasme, ekspektoran, antiseptik, bakteriostatik, antiviral, antihelmintik dan antihipertensi (Kurian, 2010; Kemper, 2005). Sudah dinyatakan bawah bawang putih, sebagai agen antibakteri, efektif terhadap banyak bakteri gram-positif dan gram-negatif dan efek ini berasal dari allisin. Allisin adalah senyawa sulfur teroksigenasi, yang terbentuk ketika sel bawang putih mengalami kerusakan. Alliin adalah senyawa prekursor dari allisin dan disimpan dalam suatu kompartemen dalam sel bawang putih yang terpisah dari enzimnya yaitu allinase. Ketika sel bawang putih mengalami kerusakan, allin dan allinase akan bercampur dan alliin akan berubah menjadi allicin (Cutler dan Wilson, 2004; Kemper, 2005). Dari latar belakang tersebut, perlu dilakukan penelitian terhadap ekstrak bawang putih (Allium sativum) untuk menguji aktivitas antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. 4 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut, dapat dibentuk pertanyaan penelitian: Apakah ekstrak bawang putih ( Allium sativum) mempunyai aktivitas antimikroba terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus dan bakteri E. coli? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum Untuk mengetahui apakah bawang putih memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri S. aureus dan E. Coli. Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa kuat aktivitas antimikroba bawang putih terhadap bakteri S. aureus dan E. Coli. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Sebagai acuan peneliti lain dalam meneliti ekstrak bawang putih atau uji aktivitas antimikroba dengan bahan lain Manfaat Praktis Dengan Penelitian ini, diharapkan ekstrak bawang putih dapat diterapkan sebagai antibiotik sistemik. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif anaerobik falkutatif berbentuk bulat yang juga dikenal dengan nama staph emas, memiliki ukuran 0,7-1,2 μm. Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 37 dan berkelompok seperti buah anggur dan memiliki warna berwarna emas pada agar darah. Staphylococcus aureus bereproduksi dengan cara pembelahan biner. Dua sel anakan tidak terpisah secara sempurna sehingga bakteri ini selalu terlihat membentuk koloni kluster seperti anggur. Bakteri ini bersifat flora normal pada kulit sehat, tetapi dapat menjadi patogen pada jaringan kulit yang terbuka. Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluransaluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus (Brooks et al., 2007). Infeksi oleh S. aureus ditandai dengan kerusakan jaringan yang disertai abses bernanah. Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan adalah furunkel 6 pada kulit dan impetigo. Infeksi superfisial ini dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam menimbulkan osteomielitis, artritis, endokarditis dan abses pada otak, paru-paru, ginjal serta kelenjar mammae. Pneumonia yang disebabkan S. aureus sering merupakan suatu infeksi sekunder setelah infeksi virus influenza. Staphylococcus aureus dikenal sebagai bakteri yang paling sering mengkontaminasi luka pasca bedah sehingga menimbulkan komplikasi (Lowy, 1998). Gambar 1. Staphylococcus aureus bawah mikroskop elektron (cdc.gov) Kedudukan S. aureus dalam mikrobiologi (Hill, 1981) Kingdom : Eubacteria Phylum : Firmicutes 7 Class : Coccus Order : Bacillales Family : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus Species : S. aureus Nama binomial : Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus dapat menimbulkan penyakit melalui kemampuannya tersebar luas dalam jaringan dan melalui pembentukan berbagai zat ekstraseluler. Berbagai zat yang berperan sebagai faktor virulensi dapat berupa protein, termasuk enzim dan toksin, yaitu: a) Katalase, enzim yang mengkatalisir perubahan H 2 O 2 menjadi air dan oksigen dan berperan dalam daya tahan terhadap fagositosis. b) Koagulase, enzim ini dapat membekukan plasma oksalat atau plasma sitrat bila di dalamnya terdapat faktor-faktor pembekuan. Koagulase ini menyebabkan terjadinya deposit fibrin pada permukaan sel yang menghambat fagositosis. c) Enzim-enzim yang lain, seperti hialuronidase satu faktor penyebaran, stafilokinase yang menyebabkan fibrinolisis, proteinase dan betalaktamase. d) Eksotoksin, yang bisa menyebabkan nekrosis kulit. 8 e) Lekosidin, yang dihasilkan Stafilokokus menyebabkan infeksi rekuren, karena leukosidin menyebabkan Stafilokokus berkembang biak secara intraselular (Garzoni dan Kelley, 2009). f) Toksin eksfoliatif, yang dihasilkan oleh Stafilokokus aureus terdiri dua protein yang menyebabkan deskuamasi kulit yang luas (Brooks et al., 2007; Gordon dan Lowy, 2008). g) Toksin penyebab sindroma renjatan toksin, ( Staphyloccocus toxic shock syndrome) yang menyebabkan sindroma syok toksik (Gordon dan Lowy, 2008; Otto, 2012). h) Enterotoksin, dihasilkan oleh S. aureus yang berkembang biak pada makanan, toksin ini tahan panas, dan bila tertelan oleh manusia bersama makanan, akan menyebabkan gejala muntah berak (keracunan makanan). Pengobatan Stafilokokus cukup menggunakan antibiotik lini pertama sepertik ampisilin. Pada infeksi yang cukup berat, seperti sindroma renjatan toksik, diperlukan pemberian antibiotik secara oral atau intravena, seperti penisilin, metisillin, sefalosporin, eritromisin, linkomisin, vankomisin, dan rifampisin. Sebagian besar galur Stafilokokus sudah resisten terhadap berbagai antibiotik tersebut, sehingga perlu diberikan antibiotik berspektrum lebih luas seperti kloramfenikol, amoksilin, dan tetrasiklin (Brooks et al., 2007; Miller dan Kaplan, 2009). 9 2.2 Escherichia coli Bakteri Escherichia coli adalah bakteri gram negatif, anaerobik fakultatif berbentuk batang yang umumnya ditemukan di usus besar makhluk berdarah panas. Umumnya, strain dari E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa serotip dapat menyebabkan keracunan makanan yang serius dan penarikan produk makanan karena terkontaminasi bakteri ini (CDC, 2014b). Strain yang tidak berbahaya adalah flora normal dari usus dan bermanfaat untuk produksi vitamin K 2 (Bentley dan Meganathan, 1982) dan menghambat bakteri patogen pada usus (Hudault et al., 2001). Escherichia coli berbentuk batang, panjang 2 μm, diameter 0,7 μm, lebar 0,4 0,7μm memiliki flagela sehingga dapat bergerak bebas. Escherichia coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan halus dengan tepi yang nyata. Bakteri ini bersifat heterotrof dan menghasilkan makanan dengan cara fermentasi CO 2, H 2 O, etanol, laktat dan asetat (Brooks et al., 2007). 10 Gambar 2. Escherichia coli (cdc.gov) Kedudukan Escherichia coli dalam mikrobiologi (Hudault et al., 2001): Kingdom : Eubacteria Phylum : Proteobacteria Class : Gammaproteobacteria Order : Enterobacteriales Family : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia Species : E. coli Nama Binomial : Escherichia coli 11 Escherichia coli adalah kelompok bakteri dengan strain yang beragam. Beberapa strain dapat menghasilkan enterotoksin terhadap sel epitel usus yang menyebabkan diare. Strain tersebut adalah sebagai berikut: Escherichia coli Enteropatogenik (EPEC) Strain ini adalah penyebab utama diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC sebelumnya dikaitkan dengan wabah diare pada anak-anak di negara maju. EPEC melekat pada sel mukosa usus kecil. Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC) Strain ini adalah penyebab yang sering dari diare wisatawan dan penyebab diare pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. Escherichia coli Enteroinvasif (EIEC) Penyakit yang paling sering pada anak-anak di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju negara tersebut. Galur EIEC bersifat nonlaktosa atau melakukan fermentasi laktosa dengan lambat serta bersifat tidak dapat bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus. Escherichia coli penghasil toksin shiga (Shiga toxin-producing E. coli) Shiga toxin-producing E. coli adalah strain yang dapat menghasilkan enterotoksin yang sama dengan bakteri Shigella sp karena transfer DNA via konjugasi bakteri. Strain ini juga
Similar documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x